Computers & Electronics

5150-11288-1-SM

Description
5150-11288-1-SM
Published
of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
    73 BURNOUT DI KALANGAN GURU PENDIDIKAN LUAR BIASA DI KOTA BANDUNG  Dayne Trikora Wardhani Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung Jl. Ir. H. Juanda 367 Bandung daynetrikora@yahoo.co.id Abstract The aim of the study is to find out the correlation between coping behavior and job satisfaction with burnout on teachers of exceptional school in Bandung. The source of data in this study is 202 teachers of exceptional school in Bandung who were selected using simple random sampling technique. The study used instrument which adapted from Maslach Burnout Inventory, coping behavior scale, and job satisfaction scale in Occupational Stress’s Indicator from Cooper  , Sloan, & William. Data analysis using Multi Regression Analysis. The results showed that (1) coping behavior (X 1 ) had significantly negative correlation with burnout on teachers of exceptional school (Y), (2) job satisfaction (X 2 ) had significantly negative correlation with burnout on teachers of exceptional school (Y), and (3) coping behavior (X 1 ) and  job satisfaction (X 2 ) together can predict significantly to burnout on teachers of exceptional school (Y). Keywords  : education, teacher, burnout, job satisfaction, coping behavior Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku koping dan kepuasan kerja dengan burnout pada guru SLB di Kota Bandung. Sumber data penelitian ini adalah guru SLB di Kota Bandung sebanyak 202 orang yang dipilih menggunakan teknik  simple random sampling  . Instrumen penelitian yang digunakan diadaptasi dari  Maslach  Burnout Inventory  (Maslach, 1976) dan skala Perilaku Koping dan skala Kepuasan Kerja dalam Occupational Stress  Indicator   dari Cooper, Sloan, & William (1986). Data hasil penelitian dianalisa menggunakan uji statistik Multi Regression Analysis. Hasil penelitian menunjukkan; (1) perilaku koping (X 1 ) berhubungan secara negatif dan signifikan dengan burnout yang dialami guru SLB (Y), (2) kepuasan kerja (X 2 ) berhubungan secara negatif dan signifikan dengan burnout yang dialami guru SLB (Y), dan (3) Perilaku koping (X 1 ) dan Kepuasan Kerja (X 2 ) secara  bersama-sama dapat memprediksi secara signifikan terhadap burnout guru SLB (Y). Kata Kunci : Pendidikan, Guru  , Burnout, Kepuasan Kerja, Perilaku Koping Profesi guru merupakan satu bentuk pelayanan kemanusiaan ( human service profession ) yang  penuh tantangan (Maslach & Jackson, 1986). Tenaga pengajar seharusnya peka dengan  perkembangan terkini dalam proses kepe-mimpinan, manajemen, pengelolaan sumber, dan pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, dengan berbagai reformasi dalam  pendidikan sudah pasti menjadikan peranan dan tanggungjawab guru-guru menjadi lebih menantang. Terdapat berbagai tanggapan sehubungan dengan karier guru pada dewasa ini. Sebagian mempunyai tanggapan bahwa kerja, beban dan tugas guru sekarang tidak mewujudkan karir guru yang menarik. Malah ada yang melihat sekolah sebagai sebuah organisasi yang dibebani dengan berbagai  beban tugas dan ada kalanya tugas ini bukan satu yang direncanakan dengan matang tetapi muncul dari situasi yang tidak diduga akibat dari perubahan sosio-ekonomi dan politik. Jika keadaan ini dibiarkan terus menerus maka suasana pengajaran-pembelajaran di sekolah yang terjadi saat ini akan menuju ke arah yang tidak menentu dan akan menghadapi kegagalan untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-  74 Jurnal Psikologi Undip   Vol. 11, No.1, April 2012   Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Perubahan-perubahan dalam pendidikan yang tidak direncanakan dengan sistematis menyebabkan daftar tugas guru semakin  panjang dan harapan terhadap guru semakin tinggi, sedangkan keadaan lain seperti kesejahteraan guru tidak banyak berubah. Guru, sarana dan prasarana proses pem- belajaran tidak disiapkan dengan sempurna untuk menghadapi perubahan-perubahan ter-sebut. Dengan demikian, guru merasa amat kecewa karena tidak mampu menangani tugas dan harapan yang sudah berubah. Situasi tersebut menyebabkan para guru mengalami ketidaknyamanan dan merasakan suatu situasi yang menekan. Individu tidak mungkin dapat  berfungsi dengan efektif jika individu dalam keadaan tertekan (Smith, 1993; Girdano, Everly, & Dusek, 1993). Perasaan tertekan menjadikan seseorang itu tidak rasional, cemas, tegang, tidak dapat memusatkan  perhatian kepada pekerjaan dan gagal menikmati rasa gembira atau kepuasan hati terhadap pekerjaan yang dilakukan. Kondisi ini diperkuat dengan hasil kajian yang pernah dilakukan antara lain oleh Fejgin, Ephraty & Ben-sira (1995) dan Pastore & Judd (1992) yang membuktikan sebagian guru memang mengalami perasaan tertekan, sikap berang, murung, mengambil keputusan atau memikirkan untuk berhenti atau pensiun sebelum waktunya karena mengalami tekanan. Oleh sebab itu penting bagi guru untuk mengembangkan perilaku koping yang positif agar dapat mengatasi masalah yang dihadapinya.   Dalam melaksanakan reformasi pendidikan saat ini sangat sedikit yang dilakukan untuk meneliti apakah perubahan-perubahan yang dilakukan itu ada pengaruhnya terhadap corak tingkah laku dan sikap guru-guru. Dampak  perubahan ini terhadap para guru merupakan asumsi semata-mata. Supaya asumsi tidak terus tinggal sebagai asumsi, penelitian- penelitian empiris perlu dilakukan terhadap fenomena ini. termasuk guru-guru yang terlibat dalam pendidikan luar biasa. Berdasarkan estimasi, jumlah anak  berkebutuhan khusus sekitar 3% dari populasi anak usia sekolah. Hasil sensus pada tahun 2001 menggambarkan baru sekitar 3,7% (33.850 anak) dari mereka yang terlayani di lembaga pendidikan baik di sekolah reguler maupun sekolah luar biasa (sekolah khusus). Perlu diketahui bahwa angka 3% tersebut  belum termasuk mereka yang tergolong autis,  berbakat, dan kesulitan belajar. Kenyataan ini menandakan bahwa masih banyak anak-anak  berkebutuhan khusus yang berada di seluruh Indonesia yang belum memperoleh haknya mendapatkan pendidikan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh antara lain kondisi sosial ekonomi orang tua yang kurang menunjang, jarak antara rumah dan sekolah luar biasa cukup jauh, dan sekolah reguler tidak mau menerima anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama anak-anak normal. Untuk itu perlu diupayakan model layanan pendidikan yang memungkinkan anak-anak berkebutuhan khusus belajar  bersama-sama dengan anak normal di sekolah umum.   Pendidikan Luar Biasa adalah merupakan  pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses  pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Namun kenyataannya anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan layanan pendidikan jumlahnya masih sangat sedikit. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik, saat ini ada sekitar 1.500.000 anak berkebutuhan khusus atau mencapai 0,7 persen dari total  jumlah penduduk Indonesia. Itu artinya, dalam 1.000 penduduk terdapat 7 anak berkebutuhan khusus. Data tersebut menunjukkan dari 1,5  juta anak itu terdapat 317.016 anak  berkebutuhan khusus yang dalam usia sekolah, sedangkan yang sudah memperoleh layanan  pendidikan kurang lebih 60.000 anak. Kesenjangan ini di antaranya disebabkan oleh  Wardhani,  Burnout di Kalangan Guru Pendidikan Luar Biasa 75  di Kota Bandung   masih adanya hambatan dalam pola pikir masyarakat yang masih cenderung dikotomis dalam memandang anak berkebutuhan khusus (http://diskominfo.kaltimprov.go.id). Anak berkebutuhan khusus dianggap berbeda dengan anak normal. Mereka dianggap sosok yang tidak berdaya, sehingga perlu dibantu dan dikasihani. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar sangat merugikan anak-anak  berkebutuhan khusus secara realistis, dengan melihat apa yang dapat dikerjakan oleh masing-masing anak. Oleh karena itu dalam memandang anak berkebutuhan khusus harus dilihat dari segi kemampuan sekaligus ketidakmampuannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah disediakan berbagai bentuk layanan pen-didikan (sekolah) bagi mereka. Pada dasarnya sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus sama dengan sekolah anak-anak pada umumnya. Namun karena kondisi dan karakteristik keterbatasan anak yang disandang anak berkebutuhan khusus, maka sekolah bagi mereka dirancang secara khusus sesuai dengan  jenis dan karakteristik keterbatasannya. Sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus ada beberapa macam, ada Sekolah Luar Biasa (SLB), ada Sekolah Dasar Luar Biasa, ada Sekolah Terpadu atau  Mainstreaming   dan Sekolah Inklusi. SLB adalah sekolah yang dirancang khusus untuk anak-anak  berkebutuhan khusus dari satu jenis keterbatasan. Di Indonesia kita kenal ada SLB  bagian A khusus untuk anak Tunanetra, SLB  bagian B khusus anak Tunarungu, SLB C khusus anak Tunagrahita dan sebagainya. Satu unit SLB biasanya terdapat berbagai jenjang  pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga lanjutan. SDLB berbeda dengan SLB, SDLB adalah bentuk sekolah (Layanan Pendidikan)  bagi anak berkebutuhan khusus hanya untuk  jejang pendidikan SD. Selain itu siswa SDLB tidak hanya terdiri dari satu jenis dari satu  jenis keterbatasan saja, tetapi bisa dari  berbagai jenis keterbatasan, misalkan dalam satu unit SDLB dapat menerima siswa Tunanetra, Tunarungu, Tunadaksa, Tuna-grahita bahkan siswa Autis. Bersamaan dengan upaya meningkatkan  jumlah anak-anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan, aspek kualitas layanan  pendidikan harus selalu ditingkatkan sebagai  bentuk perwujudan tanggungjawab kita terhadap pendidikan di Indonesia. Mutu  pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah input siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, sarana-prasarana, dana, manajemen, lingkungan, dan kegiatan belajar-mengajar. Dari berbagai faktor tersebut, peranan tenaga kependidikan, khususnya guru, merupakan salah satu faktor yang paling menentukan. Hal ini disebabkan karena guru merupakan unsur manusiawi yang sangat dekat hubungannya dengan anak dalam kegiatan pendidikan sehari-hari di sekolah. Bahkan, seringkali anak menjadikan guru sebagai tokoh identitas, se-hingga guru dapat membimbing dan meng-arahkan anak dalam kegiatan belajar-mengajar, yang pada akhirnya sangat menen-tukan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) biasa melayani anak berkebutuhan khusus agar  potensi yang dimiliki berkembang optimal.  Namun dalam pelaksanaan tugasnya tersebut  beban yang harus dihadapi guru pendidikan luar biasa jauh lebih berat dibandingkan guru  pendidikan biasa yang majoritas anak didiknya adalah anak-anak yang normal. Beban kerja yang berat tersebut dan keseharian yang monoton serta ketidakmampuan mendaya-gunakan perilaku koping membuat guru  banyak dihinggapi burnout   dalam bekerja.  Burnout   merupakan kondisi emosional di mana seseorang merasa lelah dan jenuh secara mental ataupun fisik sebagai akibat tuntutan  pekerjaan yang meningkat (Maslach, 1993). Menurut (Maslach 1993), ada tiga dimensi dalam burnout yaitu keletihan emosi ( emotional exhaustion ), depersonalisasi ( depersona-lisation ) dan perasaan diri tidak  76 Jurnal Psikologi Undip   Vol. 11, No.1, April 2012    berkemampuan (  personal accomplishement  ) yang dialami guru. Pines & Aronson (1988) mendefinisikan burnout   sebagai kelelahan secara fisik, mental, dan emosional. B urnout   dialami oleh seorang guru yang  bekerja di sektor pendidikan karena guru menghadapi tuntutan dari siswa yang memiliki hambatan dalam belajar, tingkat keberhasilan dari pekerjaan rendah, dan kurangnya  penghargaan yang memadai terhadap kinerja mereka. Situasi menghadapi hambatan dan kesulitan siswa luar biasa menggambarkan keadaan yang menuntut secara emosional ( emotionally demanding  ). Pada akhirnya dalam jangka panjang individu akan meng-alami kelelahan baik kelelahan fisik, emosional, dan mental.  Burnout   yang dialami  para guru PLB semakin diperparah oleh kebiasaan menikmati kemonotonan kerja dan hanya sibuk berkomentar tentang “ harusnya ”  tapi kurang tertantang untuk melakukan tindakan ( coping  ). Faktor lain adalah ketidak- puasan dalam bekerja terkait dengan reward   yang tidak sebanding dengan beban kerja dan faktor-faktor di lingkungan pekerjaan yang tidak kondusif bagi pelaksanaan tugas mereka. Dalam konteks Indonesia, meskipun kedudukan guru amat penting dan secara tegas dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional namun perhatian terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis guru khususnya Pendidikan Luar Biasa kurang memperoleh perhatian serius dari pemerintah. Hal ini sangat kontradiksi pada satu sisi guru PLB dituntut untuk menunjukkan kinerja maksimal, namun pada sisi lain kepuasan kerja dan kesejahteraan mental mereka kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu dirasakan  perlu untuk mengetahui tingkat  burnout   di kalangan guru SLB ditinjau dari aspek  perilaku koping dan kepuasan kerja mereka supaya langkah-langkah persiapan dapat diambil untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Berhubungan dengan penjelasan di atas,  peneliti berasumsi bahwa perilaku koping dan kepuasan kerja merupakan dua variabel yang  berpengaruh terhadap burnout   guru PLB. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Weber & Toffler (1989) yang telah menguji hubungan variabel kepuasan kerja dan perilaku koping dikalangan guru pendidikan luar biasa dengan tingkat burnout   yang dialami para guru. Hasil  penelitian Weber dan Toffler tersebut me-nyatakan bahwa perilaku koping berkorelasi secara signifikan dengan burnout  , begitu pula kepuasan kerja berkorelasi negatif yang signifikan dengan burnout   para guru PLB. Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa  perilaku koping dan kepuasan kerja ber-hubungan dengan burnout  . Hal ini bermakna  jika perilaku koping dalam menghadapi te-kanan pekerjaan yang dihadapinya buruk maka burnout   yang dialami akan tinggi. Begitu pula  jika kepuasan kerja rendah maka  burnout   yang dialami akan tinggi. Namun demikian diper-lukan penjelasan empirik melalui penelitian apakah perilaku koping dan kepuasan kerja guru PLB berhubungan dengan burnout  . Tujuan dan Manfaat Penelitian  Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan antara perilaku koping dan kepuasan kerja dengan burnout. Penelitian ini  bermanfaat untuk menyiapkan beberapa alternatif dan panduan kepada pihak-pihak terkait, khususnya di kalangan administrator dan managemen sekolah, Kantor Dinas Pendidikan Kota, Dinas Pendidikan Propinsi dan Departemen Pendidikan Nasional umumnya untuk mengatur perilaku koping sehingga dapat mengatasi masalah ‘burnout’   di kalangan guru, khususnya guru-guru SLB. Fenomena   ‘burnout’ adalah keadaan yang kronik yang dialami oleh seseorang dan tidak  bisa diselesaikan dengan cara yang mudah dan sederhana (Smith, 1993). Justru itu, hasil  penelitian ini dapat digunakan pihak terkait untuk peningkatan kualitas lingkungan kerja di sekolah agar kesejahteraan mental guru-guru dapat terpelihara. Selain itu, penelitian ini dapat membantu memberikan masukan bagi  Wardhani,  Burnout di Kalangan Guru Pendidikan Luar Biasa 77  di Kota Bandung    perguruan tinggi yang memainkan peranan  penting dalam menghasilkan calon guru PLB yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan kompetensi pedagogik, melainkan membekali  para calon guru PLB kemampuan diri (  self care ) agar mereka memiliki kemampuan koping dan terhindar dari burnout  . Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberi manfaat bagi memudahkan berbagai instansi terkait dalam menyusun berbagai  program untuk meningkatkan kepuasan kerja guru dan meningkatkan kapasitas guru PLB dalam mengatasi masalah dalam pekerjaan mereka.  METODE Populasi Dan Sampel Berdasarkan data hasil penelitian guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Bandung  berjum-lah 458 orang guru yang terdiri dari 347 Pegawai Negeri Sipil dan 111 orang guru honorer ataupun swasta. Sampel akan dipilih menggunakan teknik persampelan random  sederhana (simple random sampling) seba-nyak 50% dari masing-masing kelompok. Berdasarkan hal tersebut terpilih sebanyak 229 orang guru yang akan dijadikan sampel dalam  penelitian ini. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari tiga alat ukur yang masing-masing digunakan untuk mengukur variabel burnout  , kepuasan kerja, dan perilaku koping.    Burnout Alat ukur burnout   dari  Maslach Burnout  Inventory yang sudah diadaptasi dan dimodifikasi oleh Fahrudin (2002a) digunakan dalam penelitian ini.  Maslach  Burnout Inventory (MBI)  atau  Inventori  Burnout Maslach  merupakan satu ukuran diagnostik yang mengukur tiga aspek burnout yaitu keletihan emosional, depersonalisasi dan  perasaan tidak mampu. Alat ini pada awalnya dibuat oleh Maslach & Jackson (1988) yang memang dikhususkan untuk guru dan pekerja  pelayanan kemanusiaan. Alat ukur burnout   terdiri dari 22 item (Lihat tabel 1). Responden penelitian dikehendaki mengindentifikasi apakah item itu merupakan apa yang dirasakannya, kemudian responden diminta memberi respons atas skala peringkat empat poin, yaitu dari sangat sering (4) ke “tidak pernah” (0). Ukuran bagi kejenuhan kerja adalah jumlah skor dari semua item dalam inventori burnout   dengan kriteria: 22-43 = rendah, 44-65 = sedang, dan 66-88 = tinggi. Tabel 1. Alat ukur burnout   dan sebaran item mengikut sub skala  No   Skala/Sub Skala   Item   Jumlah   1   Depersonalisasi   5, 10,11,15,22 5   2   Keletihan emosional   1,2,3,6,8,13,14,16,20 9   3   Perasaan tidak mampu   4,7,9,12,17,18,19,21 8   Total item 22    Kepuasan Kerja   Alat ukur kepuasan kerja diadaptasi dan dimodifikasi oleh Fahrudin (2002b) dari sub skala kepuasan kerja (  Job Satisfaction Scale ) yang terdapat dalam Occupational Stress  Indicator (  Cooper, Sloan & Williams, 1988). Indikator ini pada mulanya khusus untuk kumpulan pekerja kerah putih dan profesional dalam industri. Pada tahun 1990-an, alat ini telah diuji kesahihannya ke atas sekumpulan sampel besar di United Kingdom  yang meliputi  berbagai profesi dan berbagai peringkat  pekerjaan seperti dokter, dokter gigi, perawat,  polisi, guru, pegawai sosial hingga sopir bis (Kahn & Cooper, 1990; Kirkcaldy, Trimpop & Cooper, 1997). Alat ukur ini telah pula
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x