Food

5143-11274-1-SM

Description
5143-11274-1-SM
Categories
Published
of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  1 PROFIL INTELIGENSI PADA SISWA DENGAN KESULITAN BELAJAR DI SD NEGERI GISIKDRONO SEMARANG Costrie Ganes Widayanti, Diana Rusmawati, Siswati Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Jl. Prof Sudharto. SH, Kampus Tembalang, Semarang, 50275 costrie@undip.ac.id, dianarusmawati@yahoo.com , wt_psi@yahoo.com Abstract Cognitive development is a very important aspect of children’s growth and development. Student with  learning disability will face obstacles finishing their learning tasks. This study describes the intelligence profile of students with learning disability. Based on our screening, the sample of this research was 24 students from first to sixth grade which demonstrated some characteristics of learning disability. WISC test was also run. The purposive sampling technique was used and data were described using descriptive statistics. The intelligence profiles showed that 46% of students having specific learning disability and 54% having learning disability (IQ= 71-84). The IQ performance of students with specific learning disability was higher than IQ verbal. A ccording to the students’ IQ level , sufficient educational strategies are imperative to support students ’ achievement . Keywords: Learning disability, IQ, IQ performance, IQ verbal   Abstrak    Perkembangan kognitif merupakan aspek yang sangat penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Siswa dengan kesulitan belajar memiliki hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang terkait dengan belajar. Adapun teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel penelitian adalah siswa kelas 1-6 SD sebanyak 24 orang, yang menunjukkan beberapa karakteristik siswa dengan kesulitan belajar dari hasil skrining. Selanjutnya tes WISC disajikan ke pada siswa secara individual. Profil inteligensi siswa dengan kesulitan belajar menunjukkan 46% mengalami kesulitan belajar spesifik dan 54% adalah lambat belajar (IQ= 71-84). Pada siswa dengan kesulitan belajar spesifik menunjukkan skor IQ performansi yang relatif di atas skor IQ verbal. Dibutuhkan strategi pembelajaran sesuai dengan kapasitas inteligensi yang dimiliki anak sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk mencapai keberhasilan. Kata kunci : kesulitan belajar, IQ, IQ verbal, IQ performansi   Konsep perkembangan dipahami sebagai  pertambahan kemampuan dalam struktus tubuh dan fungsi ke arah yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diprediksi sebagai hasil dari proses kematangan. Perkembangan merupakan suatu proses yang  berkesinambungan mulai sejak di dalam kandungan hingga mencapai dewasa. Dalam  proses perkembangan inilah, individu akan melewati tiap tahap perkembangan untuk mencapai dewasa. Perkembangan tersebut meliputi perkembangan fisik, emosi, sosial, dan intelektual. Perkembangan kemampuan intelektual ber-kaitan dengan konsep-konsep yang dimiliki serta tindakan kognitif seseorang. Dalam kegiatan belajar mengajar, seringkali anak diperhadapkan pada persoalan-persoalan yang menuntut kemampuan abstraksi dan analisis dalam memecahkan persoalan. Kegiatan-kegiatan dapat dilakukan secara fisik, antara lain anak diminta untuk mengamati dan mencatat karakteristik dari suatu objek. Lebih lanjut, anak diminta untuk menanggapi suatu objek melalui kemampuan berpikir mengenai suatu konsep atau prinsip atas suatu objek atau situasi tertentu. Melalui penjelasan ini, terlihat  bahwa dalam aktivitas belajar tidak hanya  2  Jurnal Psikologi Undip   Vol. 11, No.1, April 2012   melibatkan masalah fisik, melainkan meli- batkan kemampuan mental, yaitu aspek kog-nitif. Perkembangan kognitif menjadi suatu hal yang harus diperhatikan karena merupakan dasar  prognosis perkembangan di masa selanjutnya. Apabila pada anak menunjukkan adanya gejala ketertinggalan dibandingkan teman-teman se-usianya, maka prognosis anak pada masa  perkembangan selanjutnya juga kurang baik. Perkembangan kognitif yang baik akan me-nentukan prognosis ke depan juga akan lebih  baik. Salah satu permasalahan yang serius adalah terkait dengan kesulitan belajar pada siswa. US Office of Education (1977, dalam Fletcher dkk, 2003) dan US National Joint Committee on Learning Disabilities (2000, dalam Gunderson & Siegel, 2001) menyatakan bah-wa istilah kesulitan belajar (  Learning  Disability ) didefinisikan sebagai suatu ke-lompok gangguan yang bersifat heterogen, dan mengandung karakteristik yang bervariasi antarindividu sehingga mengakibatkan adanya  perbedaan antara IQ dengan prestasi yang dicapai anak. Manifestasi dari kesulitan belajar ini berupa hambatan untuk mendengarkan,  berbicara, membaca, menulis, berpikir logis, dan kemampuan matematis. Kesulitan belajar tidak selalu eksplisit, sehingga untuk men-deteksi kesulitan belajar anak, akan dilakukan  pemeriksaan inteligensi. IQ telah menjadi salah satu kriteria penting untuk menentukan apakah seorang anak mengalami kesulitan  belajar atau tidak, yang ditandai dengan tingkat IQ yang berada pada taraf rata-rata atau di atas rata-rata. Sebanyak 90% siswa dengan kesulitan belajar  juga mengalami kesulitan membaca (Lyon, 1996). Di negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi siswa dengan kesulitan  belajar dimungkinkan lebih besar, mengingat  berbagai masalah kesehatan, antara lain tingginya angka kurang gizi pada ibu dan anak, penyakit persalinan, dan penyakit diare, yang menjadi salah satu faktor resiko kesulitan  belajar (Pramudigdo, 1998). Di samping itu, Indonesia termasuk negara yang memiliki masalah kesulitan belajar membaca. Indeks kemampuan membaca siswa SD di Indonesia  jauh berada di bawah indeks Singapura (Kompas, 2008). Selain itu, kurangnya pemahaman tentang siswa dengan kesulitan belajar memberikan dampak terhadap upaya-upaya pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam rangka meningkatkan prestasi akademik siswa, yang selanjutnya dapat mempengaruhi mutu se-kolah. Hal ini disebabkan pada umumnya kesulitan belajar baru terdeteksi saat siswa mulai duduk di bangku sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh  profil inteligensi pada siswa dengan kesulitan  belajar dan mengetahui perkembangan kognitif  pada siswa sekolah dasar dengan kesulitan  belajar spesifik sehingga dapat dijadikan se- bagai alat bantu bagi guru dalam mendidik dan mengembangkan kemampuan siswa. Perkembangan Kognitif Kognitif dipandang sebagai suatu konsep yang luas dan inklusif yang mengacu kepada kegiatan mental yang terlibat di dalam per-olehan, pengolahan, organisasi dan peng-gunaan pengetahuan. Proses terjadi meliputi mendeteksi, menafsirkan, mengelompokkan dan mengingat informasi, mengevaluasi ga-gasan, menyimpulkan prinsip dan kaidah, mengkhayal berbagai kemungkinan, meng-hasilkan strategi dan berfantasi. Bila disim- pulkan maka kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang mencakup segala bentuk  pengenalan, kesadaran, pengertian yang ber-sifat mental pada diri individu yang digunakan dalam interaksinya antara kemampuan po-tensial dengan lingkungan dalam hal aktivitas mengamati, menafsirkan memperkirakan, mengingat, dan menilai (Suharnan, 2005; Syaodih, 1995). Proses kognitif penting dalam membentuk  pengertian karena berhubungan dengan proses mental dari fungsi intelektual, dan ditandai   Widayanti, Rusmawati, Siswati, Profil Inteligensi pada Siswa dengan 3  Kesulitan Belajar di SD Gisikdrono,Semarang dengan representasi suatu objek ke dalam gambaran mental seseorang dalam bentuk simbol, tanggapan, ide atau gagasan dan nilai atau pertimbangan. Hubungan kognisi dengan  proses mental disebut sebagai aspek kognitif. Faktor kognitif memiliki pemahaman meliputi upaya memperoleh dan menggunakan bentuk- bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi dan dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang yang bersifat mental. Semakin ber-variasi ide dan gagasan, semakin kaya dan luaslah pikiran kognitif individu. Faktor kog-nitif mempunyai peranan penting bagi ke- berhasilan anak dalam belajar, karena sebagian  besar aktivitasnya dalam belajar selalu ber-hubungan dengan masalah mengingat dan  berpikir. Tahapan Perkembangan Kognitif Kemajuan kompetensi kognitif diasumsikan  bertahap dan berurutan selama masa kanak-kanak Piaget (Silverthon, 1999; Setiono, K. 2009; Ayriza, Y. 1995) melukiskan urutan tersebut ke dalam empat tahap perkembangan yang berbeda secara kualitatif yaitu: Tahap sensori motor Tahap ini ada pada usia antara 0-2 tahun, mulai pada masa bayi ketika ia menggunakan  pengindraan dan aktivitas motorik dalam mengenal lingkungannya. Pada masa ini bayi keberadaannya masih terikat kepada orang lain  bahkan tidak berdaya, akan tetapi alat-alat inderanya sudah dapat berfungsi. Tindakannya  berawal dari respon refleks, kemudian ber-kembang membentuk representasi mental. Menurut Piaget, perkembangan kognitif selama stadium sensorimotor, intelegensi anak  baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Dalam sta-dium ini yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan bukan tindakan-tindakan yang imaginer atau hanya dibayangkan saja, tetapi secara perlahan-lahan melalui peng-ulangan dan pengalaman konsep objek  permanen lama-lama terbentuk. Anak mampu menemukan kembali objek yang disem- bunyikan. Tahap praoperasional  , Manipulasi simbol merupakan karakteristik esensial dari tahapan ini. Hal ini sering dimanefestasikan dalam peniruan tertunda, tetapi perkembangan bahasanya sudah sangat  pesat, kemampuan anak menggunakan gambar simbolik dalam berfikir, memecahkan ma-salah, dan aktivitas bermain kreatif meningkat lebih jauh dalam beberapa tahun berikutnya. Pemikiran ini khas bersifat egosentris. Pada tahap ini anak sulit membayangkan segala sesuatunya tampak dari perspektif orang lain. Karakteristik lain dari cara berfikir pra-operasional yaitu memusat ( centralized  ). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multidimensional, maka anak akan me-musatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi dan mengabaikan dimensi lainnya. Berpikir praoperasional juga tidak dapat dibalik ( irreversable ). Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan melakukan tindakan tersebut sekali lagi secara mental dalam arah yang sebaliknya. Tahap operasional konkrit Tahap operasional konkrit dapat digambarkan  pada terjadinya perubahan positif ciri-ciri negatif tahap preoprasional, seperti dalam cara  berfikir egosentris pada tahap operasional konkrit menjadi berkurang, ditandainya oleh desentrasi yang benar, artinya anak mampu memperlihatkan lebih dari satu dimensi secara serempak dan juga untuk menghubungkan dimensi-dimensi itu satu sama lain. Menurut Piaget, anak pada tahap ini mengerti masalah konservasi karena mampu melakukan operasi mental yang dapat dibalikkan ( reversable ). Kendati kemampuan penalaran, pemecahan masalah dan logika telah berkembang tetapi  pemikiran masih terbatas pada operasi konkrit. Pada tahap ini anak dapat mengkonservasi kualitas serta dapat mengurutkan dan meng-klasifikasikan objek secara nyata. Tetapi  belum dapat memahami tentang abstraksi,  4  Jurnal Psikologi Undip   Vol. 11, No.1, April 2012    proposisi hipotesis, sehingga anak mengalami kesulitan untuk menyelesaikan masalah yang  bersifat abstrak. Tahap operasional formal   Anak tidak lagi terbatas pada apa yang dilihat atau didengar ataupun pada masalah yang dekat, melainkan dapat membayangkan ma-salah dalam pikiran serta mengembangkan  potesis secara logis. Perkembangan lain ialah kemampuannya untuk berpikir secara sis-tematis dan mampu memikirkan berbagai kemungkinan secara teratur atau sistematis untuk memecahkan masalah. Anak dapat memprediksi berbagai kemungkinan yang terjadi atas suatu peristiwa. Kesulitan Belajar Spesifik Kesulitan belajar terdiri dari dua golongan, yaitu kesulitan belajar umum dan kesulitan  belajar spesifik. Pada kesulitan belajar umum, siswa mengalami kesulitan untuk mengikuti  proses belajar mengajar di sekolah yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terkait dengan motivasi berprestasi. Sedangkan faktor eks-ternal terkait dengan lingkungan sekolah, fasilitas yang tersedia, dan kondisi sosial ekonomi (Fletcher dkk. 2003) Terdapat dua definisi tentang kesulitan belajar yang digunakan oleh  Public Law: Education  for All  , AS. Definisi pertama dari Congress of the National Advisory Committee on  Handicapped Children  yang menghasilkan konsep-konsep sebagai berikut: 1.   Adanya kesulitan belajar dalam salah satu/  beberapa proses psikologis yang melibatkan kemampuan memahami dan menggunakan  bahasa, yaitu: memori, persepsi peng-lihatan, persepsi pendengaran 2.   Adanya hambatan dalam belajar, antara lain membaca, berhitung, dan membaca 3.   Bukan disebabkan oleh adanya gangguan-gangguan visual-auditoris, retardasi mental, gangguan emosional, serta kurangnya stimulus dari lingkungan, budaya, dan ekonomi (Giuhan & Pierangela, 2007). 4.   Adanya perbedaan mencolok antara potensi siswa dengan capaian kecakapan siswa  pada taraf rendah Definisi kedua dari the  National Joint Committee on Learning Disabilities , melalui konsep-konsepnya yaitu: 1.   Kesulitan belajar merupakan kelompok kelainan yang beragam 2.   Permasalahan yang dialami murni di- pengaruhi oleh faktor internal siswa dan  bukanlah oleh faktor eksternal 3.   Perhatian sebaiknya ditujukan pada ke-tidakberfungsian sistem saraf pusat, sehingga lebih menitikiberatkan pada fungsi biologis 4.   Gangguan dapat disertai dengan adanya kelainan lainnya, misalnya disleksia dan gangguan emosional. Pada anak berkesulitan belajar membaca ditunjukkan dengan sering mengalami kekeliruan mengenal dan menggunakan kata. Kekeliruan tersebut meliputi penghilangan,  penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak (Abdurrahman, 2003). Akibatnya siswa mengalami kegagalan menjawab pertanyaan yang terkait dengan  bacaan serta tidak mampu mengurutkan jalan cerita yang dibaca secara runtut dan tidak mampu memahami tema utama dari suatu cerita. Sedangkan pada siswa dengan kesulitan  belajar berhitung ditunjukkan dengan adanya hambatan dalam hubungan keruangan, abnormalitas persepsi visual, kesulitan mengenal dan memahami simbol, kesulitan dalam membaca dan bahasa.   Widayanti, Rusmawati, Siswati, Profil Inteligensi pada Siswa dengan 5  Kesulitan Belajar di SD Gisikdrono,Semarang Profil Inteligensi pada Siswa Kesulitan Belajar Merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan  bahwa di dalam setting pendidikan terdapat siswa yang tidak menunjukkan performansi optimal sehingga akibatnya prestasi yang di-hasilkan tidak optimal. Adapun kondisi ter-sebut disebut sebagai kesulitan belajar. Kesulitan-kesulitan tersebut dapat mem- pengaruhi proses belajar yang sedang dijalani siswa. Siswa dengan kesulitan belajar mengalami gangguan dalam satu atau lebih dari proses  psikologis dasar yang diperlukan di sekolah. Proses psikologis tersebut antara lain terkait dengan persepsi, ingatan, bahasa, perhatian, dan pembentukan konsep. Adapun impli-kasinya adalah bahwa gangguan yang dialami merupakan kondisi intrinsik yang dapat mengganggu proses belajar siswa. Proses belajar pada seorang anak dilakukan melalui penerimaan secara selektif dan diterima sebagai masukan sensori yang memberikan informasi berkaitan dengan lingkungan hidup. Untuk mendapatkan makna, stimuli sensori yang bekerja harus mampu melakukan proses, dapat menghubungkan, dan  berintegrasi dalam kulit lapisan otak ( cortex ) untuk menyalurkan informasi dan menda- patkan pengertian yang sama. Informasi di- peroleh melalui kemampuan persepsi dan keterampilan kesadaran-tubuh, disimpan di otak untuk nantinya digunakan sebagai bentuk respon. Tipe respon antara lain: berbicara, menulis, mengeja huruf, bahasa tubuh, eks- presi wajah, gerak, keterampilan khusus psi-komotor. Selanjutnya, tingkat kemampuan persepsi  perlu adanya pertimbangan terhadap tingkat yang paling rendah pada jenjang pengalaman- pengalaman belajar dalam kognisi. Tes inteligensi mengukur beberapa konstruk terkait dengan kemampuan berpikir logis,  potensi. Tipe-tipe pertanyaan yang terdapat  pada tes inteligensi melibatkan kemampuan  bahasa ekspresif, mengingat jangka pendek,  pengetahuan tentang fakta, dan kosakata (Siegel, 1988). METODE Partisipan Penelitian dilakukan pada siswa SD Negeri Gisikdrono Semarang dengan teknik purposif yang memiliki kriteria (a) berusia antara 7-12 tahun, (b) berada pada perkembangan kognitif operasional konkrit dan operasional formal, (c) mengalami kesulitan membaca, menulis, mengeja huruf, dan berhitung, dan (d) memperoleh rekomendasi dari sekolah untuk terlibat sebagai subjek penelitian. Perolehan subjek didasarkan pada hasil interviu dengan guru kelas terkait dengan siswa-siswa dengan kesulitan belajar dan daftar cek karakteristik siswa dengan kesulitan  belajar spesifik Pengukuran Setelah siswa dengan kesulitan belajar diperoleh, maka siswa akan dikenai tes inteligensi menggunakan tes WISC yang telah terstandardisasi. Data diperoleh dengan melakukan subtes verbal (kosakata, informasi,  berhitung, dan deret angka) dan subtes  performansi (menyusun gambar, desain balok, coding, dan maze). Tes dilakukan secara individual, dibantu oleh enam orang asisten. Data dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan melaporkan IQ total, IQ performansi, dan IQ verbal dan selanjutnya menghitung rerata dan standar deviasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Inteligensi Hasil penelitian tentang profil inteligensi  pada siswa dengan kesulitan belajar menunjukkan bahwa 11 (46%) orang subjek

Business Plan

Apr 30, 2018

5145-11278-1-SM

Apr 30, 2018
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks