Gadgets

PEMBERDAYAAN SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN KESEJAHTERAAN SOSIAL PENYANDANG TUNA DAKSA Studi

Description
PEMBERDAYAAN SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN KESEJAHTERAAN SOSIAL PENYANDANG TUNA DAKSA Studi
Categories
Published
of 23
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
    PEMBERDAYAAN SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN KESEJAHTERAAN SOSIAL PENYANDANG TUNA DAKSA Studi Kasus Pada Penyandang Tuna Daksa di Panti Rehabilitasi Sosial Bina  Daksa “Suryatama” Bangil Pasuruan   Oleh: DEDE KURNIAWATI (0811210008)   ABSTRACT  Physically disabled is one of the groups that fall into the category of social welfare problem. This is due to the physically disabled susceptible to problems of disability, discrimination , and poverty . This study discusses the empowerment of  persons with disabilities who lived in the orphanage RSBD Suryatama to be able to improve their social welfare . The purpose of this study was to analyze the  process of empowerment of the physically disabled in the Home RSBD Suryatama and analyze the impact of empowerment for the development of social welfare . This study uses the perspective of Charles Horton Cooley on self-concept (looking  glass self) and perspectives of Talcot Parson on medical understanding of disability . Type of applied research is descriptive qualitative research with a case  study approach. Informants were selected purposively based on criteria established in accordance with the purpose of research . Keywords   : Empowerment , self-concept , social welfare , people with disability ABSTRAK Penyandang tuna daksa merupakan salah satu kelompok yang masuk dalam kategori penyandang masalah kesejahteraan sosial . Hal ini disebabkan oleh  penyandang tuna daksa rentan terhadap masalah ketidakberdayaan, diskriminasi, dan kemiskinan. Penelitian ini membahas tentang pemberdayaan penyandang tuna daksa yang tinggal di panti asuhan RSBD Suryatama sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses pemberdayaan penyandang cacat fisik di Rumah RSBD Suryatama dan menganalisis dampak pemberdayaan bagi pengembangan kesejahteraan sosial. Penelitian ini menggunakan perspektif Charles Horton Cooley tentang konsep diri (looking glass self) dan perspektif dari Talcot Parson mengenai pemahaman medis disabilitas. Jenis penelitian yang digunakan adalah  penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dipilih secara purposive berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan  penelitian . Kata kunci:    Pemberdayaan, konsep diri, kesejahteraan sosial, penyandang disabilitas      Pentingnya Perhatian terhadap Penyandang Disabilitas Penyandang tuna daksa termasuk dalam kelompok  penyandang masalah kesejahteraan sosial (PKMS). Hal ini karena dalam  proses interaksi antara penyandang tuna daksa dengan masyarakat di lingkungannya sering berjalan kurang baik. Penyandang tuna daksa sering mengalami diskriminasi dan ketersisihan. Kondisi tersebut mendorong mereka menjadi individu yang tidak berdaya dalam menjalani aktivitas sosialnya dan mengalami kesulitan dalam memperjuangkan kesejahteraan sosialnya. Melalui Undang-Undang No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 43 tahun 1998 tentang Upaya Kesejahteraan Penyandang Disabilitas, Pemerintah Republik Indonesia telah menjamin secara legal formal segala persamaan hak dan kedudukan para penyandang disabilitas dengan warga negara Indonesia yang lain. Kesamaan hak dan kedudukan itu diantaranya ialah kesamaan dalam memperoleh  pendidikan, pekerjaan dan  penghidupan yang layak, berperan dan menikmati hasil-hasil  pembangunan, aksesbilitas dalam mencapai kemandirian, rehabilitasi,  bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial, serta menumbuh kembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya (Bapemas, 2011: 1). Salah satu bentuk realisasi dari undang-undang dan peraturan  pemerintah tersebut yaitu dengan dengan disediakannya panti rehabilitasi sosial bina daksa. Panti ini dijadikan tempat untuk memberdayakan penyandang tuna daksa agar mereka menjadi pribadi yang berdaya. Perlu untuk diketahui  bahwa pemberdayaan merupakan salah satu solusi yang dapat dijalani oleh penyandang tuna daksa untuk keluar dari masalah kesejahteraan sosial yang mereka alami. Keberdayaan para penyandang tuna daksa ini nantinya akan menjadikan mereka dapat berdaya dalam memperjuangkan kesejahteraan sosialnya. UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Suryatama Pasuruan merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur yang mempunyai tugas pokok dan fungsi memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial kepada  penyandang tuna daksa agar mereka mampu berperan serta dalam kehidupan masyarakat. Dari tugas dan fungsi panti rehabilitasi sosial tersebut, dapat dilihat bahwa panti ini merupakan salah satu fasilitas atau media yang dipersiapkan pemerintah dalam memberdayakan penyandang tuna daksa. Sasaran layanan dari  panti rehabilitasi sosial bina daksa ini yaitu penyandang tuna daksa usia  produktif. Proses yang harus dilalui oleh  penyandang tuna daksa untuk dapat mencapai tujuan yang mereka harapkan tersebut tentunya sangat kompleks. Perjuangan mereka untuk dapat merubah stigma buruk yang melekat pada mereka dan mendapatkan kesetaraan dalam lingkungan sosial, tentunya dilakukan dengan banyak cara dan salah satu cara yang dimaksud adalah    dengan bergabung di Panti RSBD Suryatama ini. Oleh karena itu,  penulis tertarik untuk melakukan  penelitian skripsi yang berjudul  Pemberdayaan Sebagai Upaya  Membangun Kesejahteraan  Penyandang Tuna Daksa: Studi  Kasus Pada Penyandang Tuna  Daksa di Panti Rehabilitasi Sosial  Bina Daksa “Suryatama” Bangil  Pasuruan . Rumusan Masalah 1.   Bagaimana proses  pemberdayaan yang dijalani oleh penyandang tuna daksa di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Suryatama? 2.   Bagaimana dampak  pemberdayaan yang telah dijalani penyandang tuna daksa di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Suryatama? Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan  jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian dengan jenis kualitatif diharapkan dapat mempermudah dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial yang sedang terjadi tanpa harus menghilangkan sifat alamiah objek yang diteliti. Sifat alamiah penelitian kualitatif memiliki karakteristik bahwa data yang diambil diperoleh langsung dari lapangan, bukan dari laboratorium atau penelitian yang dikontrol, melakukan kunjungan pada situasi alamiah (Salim, 2006: 4). Menurut Yin (2008: 1),  penelitian kualitatif deskriptif    merupakan penelitian yang fokus  pada penguraian kasus yang sedang diteliti. Penelitian ini menerapkan  jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan suatu keadaan atau fenomena penyandang tuna daksa yang berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosialnya dengan menjalani pemberdayaan di Panti Sosial Bina Daksa Suryatama Pasuruan. Pada penelitian ini,  pendekatan yang digunakan adalah  pendekatan studi kasus. Yin (2008 :18) mengatakan, secara umum studi kasus merupakan suatu inkuiri empiris dimana menyellidiki fenomena di dalam kehidupan nyata dengan memanfaatkan multisumber  bukti. Fokus Penelitian Menurut Bungin (2012: 41-42), fokus penelitian bertujuan untuk memberikan batasan terhadap  permasalahan yang ada agar tidak terjadi pembiasan dan agar penelitian yang dilakukan tidak meluas dan lebih terarah sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini, fokus  penelitian yang menjadi prioritas dalam penelitian ini adalah menganalisis proses pemberdayaan  penyandang tuna daksa di Panti RSBD Suryatama dan menganalisis keberhasilan pemberdayaan yang dijalani penyandang tuna daksa di  panti RSBD Suryatama. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian merupakan suatu tempat dimana penelitian tersebut dilaksanakan. Penentuan lokasi penelitian bermanfaat untuk membatasi daerah dari variabel-variabel yang diteliti (Usman, 2009: 41).    Dalam penelitian ini, lokasi  penelitian ditentukan di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Daksa “Suryatama” Bangil Pasuruan. Lokasi tersebut dipilih dengan alasan  bahwa Panti Rehabilitasi Sosial Bina Daksa “Suryatama” merupakan panti rehabilitasi sosial bina daksa satu-satunya di provinsi Jawa Timur yang  berada di bawah naungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Menariknya, pelayanan yang diberikan di panti ini masih kurang  berkembang dibanding dengan panti RSBD lain. Di Panti RSBD Suryatama masih mempunyai sekitar empat macam jenis bimbingan ketrampilan, sedangkan di panti RSBD lain sudah mempunyai banyak  jenis ketrampilan unuk memberdayakan kliennya. Meskipun mengalami keterbatasan dalam hal  pemberian pelayanan bimbingan, tapi  panti tetap diharapkan untuk dapat menjalankan perannya dalam membentuk penyandang tuna daksa yang berdaya dalam menjalani kehidupan sosialnya. Teknik Penentuan Informan Penentuan informan dalam  penelitian ini menggunakan teknik  purposive. Hendrarso menjelaskan subjek penelitian akan menjadi informan yang akan memberikan  berbagai macam informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Adapun yang menjadi informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Informan utama adalah mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Sedangkan informan tambahan adalah mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti (Suyanto, 2005 : 171 ). Dari keterangan tersebut, informan dalam penelitian ini terdiri dari informan kunci dan informan tambahan. Teknik Pengumpulan Data Data diperoleh sesuai dengan teknik pengumpulan data yang dijelaskan oleh Yin (2008: 103), diantaranya adalah: a.   Observasi langsung, peneliti melakukan kunjungan lapangan ke obyek yang diteliti dan mengobservasi  pelaku dan kondisi lingkungan sosial yang relevan.  b.   Wawancara mendalam secara tidak terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara. c.   Dokumentasi, merupakan informasi dokumenter yang sangat relevan untuk  penelitian studi kasus . Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang diterapkan dalam penelitian studi kasus ini menggunakan teknik  penjodohan pola (Yin, 2008: 135), diantaranya sebagai berikut: 1.   Membuat pernyataan teoritis awal atau proposisi awal 2.   Membandingkan temuan-temuan kasus awal dengan pernyataan atau proposisi. Dimana peneliti membandingkan antara temuan-temuan dari observasi awal dengan temuan-temuan saat melakukan proses wawancara langsung di tempat penelitian.    3.   Memperbaiki pernyataan atau  proposisi. Apabila hasil dari kedua pola berbeda maka diperbaiki kembali dengan mencari pernyataan yang sesuai. 4.   Membandingkan dengan kasus lainnya dalam rangka perbaikan. Penelitian ini akan dibandingkan dengan penelitian terdahulu agar mendapat perbaikan dalam  proses penelitian. 5.   Memperbaiki kembali  pernyataan atau proposisi. Perbaikan pernyataan dari tahap awal ketika membuat  pernyataan, membandingkan temuan awal, memperbaiki  pernyataan dan melihat apakah data yang diperoleh di lapangan sudah dapat menjawab rumusan masalah peneliti. 6.   Memasukkan perbaikan dengan fakta dari kasus. Jika terdapat kekurangan dalam  penyempurnaan proposisi maka diperbaiki dengan realitas yang ditemukan di lapangan. 7.   Mengulangi proses analisa data sebanyak mungkin sesuai dengan kompleksitas  permasalahan yang hendak dijawab dan sesuai yang dibutuhkan. Keabsahan Data Penelitian Dalam hal ini, keabsahan data dilakukan dengan menerapkan teknik kredibilitas yang meliputi beberapa kegiatan, yaitu (Endraswara, 2006: 111-112): 1)   Memperpanjang cara observasi agar cukup waktu untuk mengenal responden, lingkungannya, dan kegiatan serta peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hal ini juga sekaligus untuk mengecek informasi, agar dapat diterima sebagai orang dalam. Kalau peneliti telah diterima oleh keluarga responden, kewajaran data akan terjaga. 2)   Pengamatan terus menerus agar  penelitian dapat melihat sesuatu secara cermat, terinci dan mendalam, sehingga dapat membedakan mana yang  bermakna dan tidak. 3)   Triangulasi, berupa  pengumpulan data yang lebih dari satu sumber, yang menunjukkan informasi yang sama. Dalam hal ini, triangulasi dilakukan dengan beberapa langkah, yakni: triangulasi sumber data yang dilakukan dengan cara mencari data dari  banyak sumber informan, yaitu orang yang terlibat langsung dengan objek kajian yaitu klien  panti yang sedang menjalani  proses pemberdayaan di panti dan alumni panti. Selanjutnya, triangulasi pengumpul data yang dilakukan dengan cara mencari data dari banyak sumber informan, dalam hal ini, selain mengumpulkan data dari informan utama, data juga dikumpulkan dari informan kunci yakni staff bidang rehabilitasi dan bina lanjut, dan dari informan tambahan, yaitu  pihak swasta yang mempekerjakan alumni panti, kepala bagian rehabilitasi dan  bina lanjut, serta pengurus KUBE service elektronik binaan  panti. Kemudian dilakukan triangulasi metode, yakni  pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x